tvOne Newsticker

Beranda

Live Streaming

Program tvOne

Rilis Pres

Jadwal

Indeks

Karier

Tentang Kami

Selasa, 22 Mei 2012


Kabar Sosial Budaya

Sineas Muda RI Meriahkan Festival Film Berlinale 2012

Jumat, 24 Februari 2012 18:01 WIB

Berlin (tvOne)

Indonesia menyimpan sejumlah sineas muda berbakat. Film-film mereka ditayangkan pada Festival Film Internasional di Berlinale. Dengan mengusung sejumlah isu minoritas dan masalah sosial, karya para sineas muda ini mendapat apresiasi baik oleh masyarakat Eropa.

Film pendek berdurasi 4 menit berjudul Seven Deadly Kisses arahan sutradara Sammaria Simanjuntak masuk dalam daftar kompetisi untuk memperebutkan Teddy Award Berlinale. Piala ini ditujukan khusus bagi film film bertema homoseksual.  Walau belum memenangkan apapun, film pendek yang diproduksi bersama Daud Sumoloang ini diperhitungkan dalam kancah perfilman dunia.

Kurator Berlinale, John Badalu mengatakan, "Bagi penonton Indonesia akan sangat kontroversial karena film ini tentang 2 cowok. Tapi menurut saya, Sammaria punya potensi juga sebagai sutradara untuk cerita cerita yang berbeda. Ia mengangkat isu isu minoritas. Menurut saya, 7 deadly kisses walau isunya minoritas dan mungkin tidak bisa diterima semua orang tapi ia berhasil mengemasnya dengan gaya pop dan menarik”

Sementara itu, sang sutradara 7 Deadly Kisses sendiri, Sammaria Simanjuntak, sutradara 7 Deadly Kisses. Mengatakan bahwa film tersebut dibuat dengan ide spontan ,”Iseng iseng sih, disela sela film panjang kitaa yang judulnya demi Ucok. Stress, lalu kita bikin film seru seruan gitu. Seminggu 1 film. Ini film pertama dari rangkaian film stress itu“

Selain bertabur bintang Holywood bahkan Bolywood, Berlinale kali ini bertabur sineas muda. Film Festival terbesar di Eropa yang dihadiri oleh 4000 wartawan dari seluruh dunia ini mendukung berbagai program pelatihan perfilman bagi para sineas muda dari seluruh dunia. Berlinale bekerja sama dengan Goethe Institut dan Kementrian Luar negeri Jerman mengundang sejumlah sutradara dari 7 negara seperti Ymaan, Vietnam, Arab Saudi juga Indonesia. Mereka diberi kesempatan untuk menayangkan film karyanya dalam sebuah sesi bertema Film for friends, yang mengangkat berbagai isu. Dari Indonesia terpilih 2 sutradara muda untuk hadir di Berlinale:

Dokumenter asal Makassar Arfan Sabran yang terpilih dalam program Film for Friends itu mengatakan  "isu-isu yang muncul menurut saya dalam film film Jerman dan film film yang ada disini sangat jujur melihat diri, refleksi sosial mereka, refleksi sosial dunia. Refleksi dunia sendiri tergambar di Berlinale. Makanya wajar festival ini sangat besar. Kita bisa lihat apa yang harus kita perbaiki“.

Selain Arfan, ada Yusuf Radjamuda asal Palu yang memutar film pendeknya berjudul "Wrong Day“. Ia mengaku  senang sekali bisa berjaringan dengan sineas muda dari seluruh dunia.“ Saya masih pemula. Saya belajar banyak hal bahwa film bukan sekedat angkat kamera lalu rekam. Ternyata banyak sekali yang harus diperhatikan seperti berkomunikasi dengan orang orang yang bekerja dengan kita“

Menanggapi banyaknya sineas muda yang ikut dalam Berlinale, Direktur Panorama BerlinaleWieland Speck  menekankan keberadaan mereka sangat penting pada masa depan perfilamn dunia ,“ Kami mengundang dan menemukan para sineas yang belum kita kenal. Kami berharap bisa menunjukkan mereka perfilman dunia dan Eropa. Kami berkeliling dunia dan mencari para sineas berbakat."

Film The Mirror Never Lies mencuri perhatian anak anak Jerman
Beningnya laut Wakatobi mempesona para penonton muda film The Mirror Never Lies arahan sutradara muda, Kamila Andini pada Festival Film Berlin atau Berlinale ke 62. Film ini masuk dalam kategori Generation K-plus yang ditujukan bagi penonton anak anak.

Drama yang mengalir tentang  anak anak nelayan di Bajo, Pakis dan Lumo yang memiliki harapan agar  ayah mereka segera kembali dari laut mengambil setting di wilayah Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Adegan yang bergantian dengan pemandangan bawah laut, ikan ikan dan perkampungan  nelayan sederhana membuat anak anak penonton film ini memberi tepuk tangan meriah  pada akhir film.

Selama 10 hari penyelenggaraan Berlinale, film yang dibintangi Gita Novalista, Eko, Atiqah Hasiholan dan Reza Rahadian ini diputar 3 kali di dua bioskop berbeda, yaitu Filmtheater am Freiedrichshain dan Haus der Kulturen der Welt. Dalam Berlinale, film The Mirror Never Lies ini diputar pertama kalinya di Eropa.

Dengan masuknya The Mirror Never Lies pada kategori Generation K-plus yang  otomatis penonton terbanyak film ini, termasuk  juri yang memberi penilaian,  adalah anak-anak.

Usai pemutaran film, sutradara Kamila Andini dan anak anak pemeran utama film Gita Novalista dan Eko naik ke panggung untuk Tanya jawab dengan para penonton, yang datang dari berbagai sekolah dasar dan menengah di kota Berlin dan sekitarnya.  Tentunya ada penterjemah dari Bahasa Jerman ke Bahasa Indonesia, Semua film di Berlinale punya sesi Tanya Jawab dengan penonton. 

Salah satu penonton, Annika, 11 tahun mengatakan: “Saya suka filmnya. Sedikit sedih tapi indah.  Apalagi dengan pemandangan bawah lautnya. Suatu hari saya ingin kesana!“

Setelah pemutaran terakhir di Haus Kulturen der Welt Kamila Andini mengaku gembira: „Sangat tidak disangka, sambutannya sangat baik. Sebenarnya momen di jerman ini sangat menarik dan sudah saya tunggu tunggu. Disini kita masuk section Generation, dalam kompetisi. Audiens dan jurinya juga anak anak. Ini baru pertama kali saya alami karena di Indonesia, film ini masuk klasifikasi  film remaja. Ini pertama kalinya saya tanya jawab dimuka 1000 anak“.

Film ini telah diputar di Indonesia pada Mei 2011, juga telah diputar pada festival film internasional di Busan, Mumbai, Tokyo dan SinemaManila. Bulan Maret mendatang, film ini akan diputar di Hong Kong Film Festival dimana Gita Novalista mendapat nominasi pemeran utama terbaik dan nominasi sinematografi terbaik untuk mendapatkan Asian Film Award. (Miranti Hirschmann)

2856+rn
Bookmark and Share
Komentar Kabar
Kirim Komentar